Selasa, 25 Mei 2010

KEMUNGKINAN-KEMUNGKINAN SILOGISME

KEMUNGKINAN–KEMUNGKINAN SILOGISME
Disusun untuk memenuhi tugas pada Mata Kuliah
Ilmu Logika
MAKALAH
Dosen Pembimbing
Dr. Ma’shum Nur Alim, M.Ag.






Oleh :
Mohammad Bahrul Ulum
NIM : 200981010774
Balighotul Hikmah
NIM : 200981010755

Program Studi Pendidikan Agama Islam
Jurusan Tarbiyah
Sekolah Tinggi Agama Islam Sunan Drajat
Kranji Paciran Lamongan
2010

Kata Pengantar

Bismillahirrahmanirrahim
Dengan penuh rasa syukur kepada Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul ”Kemungkinan-Kemungkinan Silogisme” maksud dari penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pada Mata Kuliah Ilmu Logika. Semoga makalah ini bermanfaat untuk menjadi bahan pengetahuan.
Terima kasih penulis haturkan kepada Bapak Dr. Ma’shum Nur Alim, M.Ag. selaku dosen pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan. Semoga segala amal kebaikan dibalas oleh Allah SWT.


Kranji, 15 Mei 2010
Penulis

DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar i
Daftar Isi ii
A. Latar Belakang 1
B. Kemungkinan-Kemungkinan Silogisme 2
C. Penutup 7
Daftar Pustaka 9

KEMUNGKINAN-KEMUNGKINAN SILOGISME
A. Latar belakang
Penyimpulan deduksi yang telah kita ketahui sekedarnya dapat kita laksanakan melalui teknik-teknik silogisme. Silogisme merupakan bentuk penyimpulan tidak langsung, karena dalam silogisme kita menyimpulkan pengetahuan baru yang kebenarannya diambil secara sintesis dari dua permasalahan yang dihubungkan dengan cara tertentu. Silogisme ialah penarikan konklusi secara tidak langsung dengan menggunakan dua buah premis yang merupakan bentuk formal penalaran deduktif.
Aristoteles membatasi silogisme sebagai: argumen yang konklusinya diambil secara pasti dari premis-premis yang menyatakan permasalahan yang berlainan. Proposisi sebagai dasar kita mengambil kesimpulan adalah proposisi yang mempunyai hubungan independen dan term persamaan. Dua permasalahan dapat kita tarik konklusinya manakala mempunyai term yang menghubungkan keduanya. Disamping itu untuk dapat melahirkan konklusi harus ada pangkalan umum tempat kita berpijak. Pangkalan umum ini harus kita hubungkan dengan permasalahan yang lebih khusus melalui term yang ada pada keduanya, maka lahirlah konklusi. Ketentuan ini berlaku untuk semua silogisme. Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah Apakah yang dimaksud dengan kemungkinan-kemungkinan silogisme? Dengan tujuan untuk mengetahui dan memahami kemungkinan-kemungkinan silogisme. Sehingga dapat berfikir dan pandai menalar secara objektif, rasional dan kritis, yang mampu membedakan yang benar dan yang salah.
B. Kemungkinan-Kemungkinan Silogisme
Yang dimaksud dengan kemungkinan-kemungkinan (buah-corak) di sini, ialah keadaan proposisi-proposisi menurut kwantitet dan kwalitet. Kwantitet (universal atau partikuler) dan kwalitet (afirmatif atau negatif). Seperti kita ketahui bentuk silogisme ada empat macam. Apabila keempat bentuk silogisme itu diterapkan pada perubahan kuantitas dan kualitas tiap-tiap proposisi A, E, I, O, maka masing-masing yang terdiri dari dua proposisi akan menghasilkan 16 kemungkinan pasangan. Akan tetapi tidak semua dari keenambelas kombinasi tersebut dapat menghasilkan silogisme yang valid. Adapun kombinasi tersebut antara lain:
AA EA IA OA
AE EE IE OE
AI EI II OI
AO EO IO OO
Jadi dengan demikian akan menghasilkan 16 x 4 = 64 pasang, akan tetapi dari 64 pasang kombinasi tersebut yang memenuhi syarat silogisme hanya 19. Dari 19 bentuk tersebut 4 bentuk merupakan kelompok figur I, 4 bentuk merupakan kelompok figur II, 6 bentuk dari figur III, 5 bentuk merupakan kelompok figur IV.
Mood (pasangan) untuk silogisme yang valid (dapat menghasilkan konklusi yang sahih) tersebut sebagai berikut:
Figur I :
Medium adalah subyek premis mayor dan predikat premis minor. Ketentuan khusus bagi bentuk ini adalah:
1. Premis mayor harus universal
2. Premis minor harus afirmatif
Bentuk yang sah dari figur ini adalah
 A : Semua mahasiswa itu bisa baca-tulis
A : Semua laki-laki itu adalah mahasiswa
A : Semua laki-laki itu bisa baca-tulis
Mood ini disebut Barbara (AAA)
 E : Tak satu pun kaum muslimin anti Tuhan
A : Semua mahasiswa STAIDRA adalah kaum muslimin
E : Tak satu pun mahasiswa STAIDRA anti Tuhan
Mood ini disebut Celarent (EAE)
 A : Semua yang jujur disenangi
I : Sebagian santri jujur
I : Sebagian santri disenangi
Mood ini disebut Darii (AII)
 E : Tak satu pun penipu adalah jujur
I : Sebagian mahasiswa adalah penipu
O : Sebagian mahasiswa tidak jujur
Mood ini disebut Ferio (EIO)
Figur II
Middel adalah predikat premis mayor dan premis minor. Dan ketentuan khususnya adalah:
1. Premis mayor harus universal
2. Premis minor kualitasnya harus berbeda dengan premis mayor
Bentuk yang sah dari figur ini adalah
 E : Tidak satu pun aties bertuhan
A : Semua kaum muslimin bertuhan
E : Tidak satu pun kaum muslimin adalah aties
Mood ini disebut Cecare (EAE)
 A : Semua mahasiswa STAIDRA adalah muslim
E : Tidak satu pun penganut marxisme adalah muslim
E : Tidak satu pun penganut marxisme adalah mahasiswa STAIDRA
Mood ini disebut Camestres (AEE)
 E : Tidak ada manusia waras anti Tuhan
I : Sebagian manusia anti Tuhan
O : Sebagian manusia adalah tidak waras
Mood ini disebut Festino (EIO)
 A : Semua benda cair beruba bentuknya
O : Sebagian benda tidak beruba bentuknya
O : Sebagian benda bukan benda cair
Mood ini disebut Baroco (AOO)
Figur III
Medium adalah subyek premis mayor dan subyek premis minor. Peraturan khususnya adalah premis minor harus afirmatif dan konklusi harus partikuler.
Bentuk yang sah dari figur ini adalah
 A : Semua kelelawar menyusui
A : Semua kelelawar mencari makan di malam hari
I : Sebagian binatang yang mencari makan di malam hari menyusui
Mood ini disebut Darapti (AAI)
 A : Semua murid terdidik
I : Sebagian murid curang
I : Sebagian yang curang terdidik
Mood ini disebut Datisi (AII)
 I : Beberapa politikus berpoligami
A : Semua politikus bisa baca tulis
I : Beberapa yang bisa baca tulis berpoligami
Mood ini disebut Disamis (IAI)
 E : Tak seorang sarjana pun buta huruf
A : Semua sarjana adalah manusia
O : Sebagian manusia tidak buta huruf
Mood ini disebut Felapton (EAO)
 O : Sebagian pejabat tidak korupsi
A : Semua pejabat terdidik
O : Sebagian yang terdidik tidak korupsi
Mood ini disebut Bocardo (OAO)
 E : Tidak satupun kerbau adalah pemakan daging
I : Sebagian kerbau berkulit putih
O : Sebagian yang berkulit putih bukan pemakan daging
Mood ini disebut Ferison (EIO)
Figur IV
Middel adalah predikat premis mayor dan subyek premis minor. Peraturan khususnya adalah:
1. Bila premis mayor afirmatif maka premis minor harus universal
2. Bila premis minor negatif maka premis mayor universal
Bentuk yang sah dari figur ini adalah
 A : Semua pramuka menggunakan pakaian seragam
A : Semua yang menggunakan pakaian seragam gagah
I : Sebagian yang gagah adalah pramuka
Mood ini disebut Bramantip (AAI)
 A : Semua mahasiswa terdidik
E : Tak satu pun yang terdidik ngawur dalam bicara
E : Tak satu pun yang ngawur dalam bicara adalah mahasiswa
Mood ini disebut Camenes (AEE)
 I : Beberapa politikus menguasai beberapa bahasa
A : Semua yang menguasai beberapa bahasa rajin membaca
I : Sebagian yang rajin membaca adalah politikus
Mood ini disebut Dimaris (IAI)
 E : Tidak ada pencuri disenangi
A : Semua yang disenangi adalah suka menolong
O : Sebagian yang suka menolong adalah bukan pencuri
Mood ini disebut Fesapo (EAO)
 E : Tidak ada kambing berparuh
I : Sebagian yang mempunyai paruh bulunya indah
O : Sebagian yang indah bulunya bukan kambing
Mood ini disebut Fresion (EIO)
Untuk memudahkan ingatan tentang kesemua bentuk yang sah, ahli logika abad pertengahan menuliskan dalam sajak. Huruf-huruf pada sajak tersebut di bawah ini adalah bentuk yang mungkin. Bentuk-bentuk dari figur I, II, III, dan IV berturut-turut terkandung dalam bunyi:
Barbara, celarent, darii, ferio, prioris.
Cecare, camestres, festino, baroco, secundae.
Tertia: darapti, disamis, datisi, felapton, bocardo, ferison, habet.
Quarta insuper addit: bramantip, camenes, dimaris, fesapo, fresison.
C. Penutup
1. Kesimpulan
Mood ini dimaksudkan, bentuk silogisme ditentukan oleh kualitas dan kuantitas premis-premis yang membentuknya, maka ada 16 kemungkinan kombinasi pada tiap-tiap bentuk dan oleh karena ada empat bentuk maka ada 64 kombinasi. Dari 64 kombinasi ini ada 19 kombinasi yang menghasilkan konklusi yang valid. Yaitu 4 kombinasi dalam bentuk I, 4 kombinasi dalam bentuk II, 6 kombinasi dalam bentuk III, dan 5 kombinasi dalam bentuk IV.
2. Saran
Dari pembuatan makalah kemungkinan-kemungkinan silogisme ini, kami berharap kepada para pembaca agar lebih banyak lagi membaca direfrensi-refrensi yang lain. Karena kami merasa makalah ini kurang lengkap dan kurang sempurna.










DAFTAR PUSTAKA

Alim, Ma’shum Nur. 2000. Diktat Ilmu Logika. Lamongan: Biro Penelitian.
Aziz, Muhammad Ali. 1993. Logika. Surabaya: Fakultas Dakwah.
Mehra, Pratap Sing. Pengantar Logika Tradisional. Bandung: Bina Cipta.
Mundiri. 1994. Logika. Semarang: Rajawali Press.
Mundiri. 1996. Logika. Jakarta: PT. Grafindo Persada.
Sidharta, B. Arief. 2008. Pengantar Logika. Bandung: PT. Refika Aditama.
Sommers, M. 1992. Logika. Bandung: Alumni.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar